BANDUNG(SINDO) – Anggaran Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat pada RAPBD 2009 mencapai Rp1,2 triliun. Angka ini meningkat 15% dibandingkan alokasi pada tahun sebelumnya. Menurut Kepala Seksi Penyusunan Program Disdik Jawa Barat Nadin, dari rencana anggaran sebesar Rp 1,2 triliun itu, yang murni dikelola Disdik hanya sebesar Rp 1 triliun. ”Sisanya didistribusikan kepada institusi lain di lingkungan Pemprov Jabar yang mengelola bidang pendidikan, ungkap Nadib di hadapan peserta workshop uji coba model pendidikan berbasis masyarakat, Jumat (24/10), di Bandung.
Nurdin mengatakan, meningkatnya nilai anggaran untuk disdik ini sebagai bentuk realisasi 20% anggaran pendidikan dalam RAPBD senilai Rp 6,2 triliun. Detail penyusunan rencana kerja bidang pendidikan Provinsi Jawa Barat 2009 lengkap dengan landasan hukumnya akan didistribusikan pada bantuan sosial, bantuan keuangan, bantuan keuangan role sharing serta hibah seperti yang direalisasikan dari anggaran pendidikan tahun 2008.
Sedangkan dalam melaksanakan pembangunan fisik sarana pendidikan, beberapa hal yang harus menjadi perhatian utama antara lain status tanah sudah besertifikat, kemudian melakukan penataan peruntukannya. ”Sedangkan untuk pembangunan nonfisik bidang pendidikan, kami lebih mengutamakan penentuan unggulan sekolah, kemudian penyusunan visi dan misi lembaga pendidikan formal yang bersangkutan,”paparnya.
Model Pendidikan
Sementara itu, dalam menggalakkan uji coba model pendidikan berbasis masyarakat mulai tingkat SD, SMP, dan SLTA, pihak Disdik Jawa Barat sedang mematangkan konsep pelaksanaannya dengan memunculkan potensi unggulan daerah.
Guru besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Enceng Mulyana menjelaskan, pendidikan memiliki ideologi membebaskan dari kebodohan, membebaskan dari kemiskinan ekonomi, membebaskan dari penyakit kemiskinan ekonomi, serta membebaskan dari penindasan.
”Karena itu model pendidikan berbasis masyarakat juga dilakukan melalui pendekatan agama, budaya, ekonomi, bahasa daerah, serta pendekatan potensi daerah di masing-masing lingkungan sekolah,” kata Enceng. Dia mengingatkan, jika mengharapkan pendidikan bermakna, maka harus disampaikan oleh orang-orang yang dipercaya atau yang memiliki kredibilitas tinggi dan memiliki dedikasi serta loyalitas. ”Tanpa itu, pendidikan tidak memiliki dampak berarti,” ujarnya.
Salah satu peserta workshop dari Kabupaten Garut, yakni Wakil Kepala Dinas Pendidikan Garut Ruhiat mengakui, penyempurnaan uji model pendidikan ini akan terus dilakukan agar peran serta masyarakat dalam dunia pendidikan di daerahnya bisa berlangsung maksimal. (arif budianto/ant) -
|